Learning & Adaptation

Posted on February 25, 2009

0


>
The Role of Experience
Definisi
Belajar  sebuah proses dimana pengalaman menghasilkan sebuah perubahan yang abadi (relatif menetap) pada perilaku atau kemampuan organisme.
Belajar diukur melalui perubahan penampilan
Mekanisme Belajar
Behavirisme
 Tabularasa
Ethologi
 adaptive significance (bagaimana perilaku organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi dalam lingkungan alaminya)
Cara lingkungan mempengaruhi perilaku
Personal adaptation
terjadi melalui hukum belajar yang memeriksa perilaku
Species adaptation
terjadi melalui tekanan seleksi alam yang menunjuk evolusi
Proses dasar belajar
Habituation
Classical conditioning
Operant conditioning
Observational learning
Habituation
pengurangan jumlah respon pada stimulus yang berulang
Classical conditioning
Organisme belajar melalui asosiasi 2 stimulus dimana satu stimulus mendatangkan sebuah respon yang semula didatangkan dengan stimulus yang lain
Ditemukan oleh Pavlov

Penelitian Pavlov
Asosiasi antara bel dan makanan
Eksperimen dilakukan pada anjing
Memasangkan stimulus yang netral dengan stimulus yang tidak terkondisi (UCS) yang mendatangkan respon yang tidak terkondisi (UCR), sehingga jika stimulus tersebut diulangi, stimulus yang netral menjadi stimulus yang terkondisi (CS) yang menimbulkan respon yang terkondisi yang sama dengan stimulus asli yang tidak terkondisi.

Prinsip dasar
Acquisition
periode selama respon dipelajari
UCSstimulus yang mendatangkan respon bawaan (UCR) tanpa dipelajari
UCRrespon bawaan yang datang dari stimulus bawaan (UCS) tanpa dipelajari
CSstimulus yang dipasangkan dengan UCS, yang mendatangkan respon yang terkondisi yang sama dengan UCR asli.
CR respon yang datang dari stimulus yang terkondisi

Extinction & spontaneous recovery
extinction  sebuah proses dimana CS ditunjukkan bersamaan dengan UCS,menyebabkan CR lemah & hilang.
Spontaneous recovery munculnya kembali CR yang telah hilang setelah periode istirahat dan tanpa pembelajaran yang baru

Generalization & discrimination
stimulus generalization stimulus yang sama seperti di awal,dimana CS mendatangkan CR
discrimination ditunjukkan ketika CR terjadi pada satu stimulus tetapi bukan stimulus yang lain

Higher-order conditioning
stimulus netral yang menjadi CS setelah dipasangkan dengan CS yang telah ada
Aplikasi Classical of conditioning
Aqcuiring & overcoming
– systematic desensitization
– flooding
Attraction & aversion
-aversion theraphy
Sickness & health
-reaksi alergi
-the immune system

Operant conditioning
Thorndike’s law of effect
Analisis Skinner
Thorndike’s law of effect
Instrumental Learning
Law of effect
Analisis Skinner
Operant conditioning
Reinforcement
Punishment
Konsekuensi: menentukan bagaimana merespon
Positive reinforcement
Negative reinforcement
Operant extinction
Aversive punishment
Jadwal Pemberian Reinforcement
Continous Reinforcement
Setiap respon, langsung mendapat penguatan, cth: masukan koin dapat kaleng soda.
Partial Reinforcement
Hanya respon tertentu saja yang dapat penguatan.

Partial Reinforcement dibagi menjadi 2:
Ratio vs Interval Schedule
Ratio: hanya respon yang ke sekian yang diberikan penguatan.
Interval:diberikan pada satu waktu yang bisa dilampaui antara satu respon dengan yang diperkuat pada respon berikutnya
Fixed vs Variable Schedule
Fixed: diberikan dengan jangka tetap pada waktu tertentu
Variable: diberikan secara random

Dari 2 kombinasi penjadwalan secara partial, dapat muncul 4 variasi yakni:
Fixed-Ratio Schedule (FR)
Penguatan diberikan setelah respon tertentu muncul
Variable-Ratio Schedule (VR)
Dalam prosesnya dibutuhkan respon yang bervariasi agar penguatan terjadi, sehingga subyek tak tahu bagaimana penguatan itu terjadi.

Fixed-Interval Schedule (FI)
Penguatan diberikan setelah melewati kurun waktu tertentu.
Variable- Interval Schedule (VI)
Penguatan diberikan setelah melalui periode waktu yang bervariasi dan dengan demikian subyek tidak tahu kapan waktu penguatan akan terjadi
Reinforcement schedule, learning, extinction (Jadwal penguatan, belajar, pemusnahan)
Pada Continous Reinforcement
Belajar menjadi lebih cepat, pesat, karena pemberian penguatan bisa ditebak. Akibatnya pemunahannya pun lebih cepat, karena waktu pemberian penguatan yang mudah ditebak.

Pada Partial Reinforcement
Belajar lebih lambat, tapi lebih resisten untuk pemunahan, terutama jika penguatan yang diberikan tak dapat di terka, membuat lebih lama belajar, membuat perilaku dapat bertahan

Escape and Avoidance Conditioning
Escape Conditioning:Organisme belajar merespon dengan menyudahi stimulus aversif.
Misal: minum obat saat pusing
Avoidance Conditioning:Organisme belajar merespon dengan mencegah, menghindar dari stimulus aversif.
Misal: mematuhi rambu-rambu agar tak ditilang.

Aplikasi dari Operant Conditiong
Pada dunia pendidikan dan setting kerja
Token ekonomi: pemberian poin ketika ada perilaku yang sesuai, dan nanti akan ditukar dengan reward tertentu saat terkumpul sejumlah poin.
Melatih binatang sirkus
Modifikasi perilaku dari problem yang muncul.

Efek melihat tayangan agresivitas (Bandura)
Mengurangi kepedulian penonton terhadap efek negative (kesakitan) dari kekerasan
Mengurangi sensitivitas saat melihat kekerasan
Meningkatkan tendensi untuk berlaku agresif
Crossroads of learning
Evolution and prepareddnes
Pada dasarnya perilaku dipengaruhi oleh evolusi dari organisme dan lokasi biological nya, yang semua itu mempengaruhi proses belajar.
Condition of taste aversion: kondisi yang membuat kita merasa tidak nyaman
Instinctive drift:kecenderungan untuk “drift back” pada perilaku naluriah/ alamiah

The Adaptive Brain
tak ada bagian otak, yang mengontrol tentang belajar. Tetapi proses belajar dapat dilihat dari hubungan antara sturktur otak.
Biologi mempengaruhi proses belajar, tetapi pengalaman belajar juga mempengaruhi fungsi otak.
Setiap hari kita harus menghidupkan “personal evolution” agar hubungan antar struktur otaknya semakin kuat.
Kognisi dan Pengkondisian
1925 Wolfgang Kohler menentang asumsi konsep behavioristik “Thorndike” yaitu binatang belajar hanya karena adanya percobaan dan kesalahan (trial and error).
Eksperimen Kohler dirancang untuk menentukan kemampuan simpanse memecahkan masalah, dan menyimpulkan simpanse tersebut dapat belajar dari “insight”.

Skema dan Peta Kognitif
Edward Tolman tikus mengembangkan peta kognitif “cognitive map” dalam menyelesaikan jalan “maze” yang komplek.
Cognitive Map’ Tolmantidak hanya berdasarkan hubungan stimulus-respon.
Kognisi dalam Pengkondisian klasik
Teori belajar kognitifdalam pengkondisian klasik merupakan rangkaian CS-UCS.
Dalam terminologi kognitif, diharapkan CS akan diikuti oleh UCS (tidak selalu berpasangan).

Kognisi dalam Pengkondisian Operan
The Role of Awareness
Teori belajar kognitiforganisme mengembangkan awareness or expectancy, hubungan antara respon dan konsekuensi.
Konsep awareness mengimplikasikan bahwa prediktor tingkah laku yang terbaik diterima secara berkelanjutan, tidak sekaligus.
Latent Learning
Penelitian Tolman, perkembangan peta kognitif pada tikus dapat terjadi dengan atau tanpa imbalan “reinforcement positive”.

Evaluasi diri sebagai imbalan atau hukuman
Evaluasi kognitif diri ditentukan oleh imbalan atau hukum baik yang berasal dari internal maupun eksternal.
Observational Learning
Belajar diperoleh dari mengamati tingkah laku model.
Kemampuan manusia untuk belajar dengan mengamati disebut dengan modelling.
Teori Sosial Kognitif Bandura
Menjelaskan bahwa orang belajar dengan melihat tingkah laku dari model dan memperoleh keyakinan bahwa mereka dapat menghasilkan tingkah laku dan mempengaruhi perilaku.
4 langkah proses modeling Bandura:
Perhatian
Ingatan
Menghasilkan
Motivasi

Ekperimen Bandura:
Anak kecil melihat sebuah film yang menunjukan kekerasan. Sebagian besar anak yang melihat model kekerasan menyerah boneka setelah melihat adegan itu.
Jika melihat media yang menunjukan kekerasan akan meningkatkan kecenderungan agresif, sedangkan melihat model yang baik (prosocial) akan mempunyai kecenderungan membantu sesama.

Efek melihat tayangan agresivitas (Bandura)
Mengurangi kepedulian penonton terhadap efek negative (kesakitan) dari kekerasan
Mengurangi sensitivitas saat melihat kekerasan
Meningkatkan tendensi untuk berlaku agresif
Kasus 1
Seekor simpanse terperangkap di sebuah ruangan, dia ingin mengambil buah pisang di luar ruangan. Dengan menggunakan galah yang lebih pendek, simpanse menggapai galah yang cukup panjang untuk mencapai seiris buah.
apa yang dialami oleh simapanse tersebut?
Kasus 2
Jane mengalami kecelakaan mobil, saat itu ia sedang menyetir seorang diri, dan tiba-tiba mobilnya terbalik, dan Jane mengalami kecelakaan dan luka parah.
Sejak saat itu, ia menjadi takut naik mobil.
Apa yang terjadi dengan Jane? Jelaskan dengan perspektif learning!
Kasus 3
Fenomena smackdown membuat anak-anak menjadi kerajingan melakukan perkelahian dengan temannya, dan berakibat fatal,bahkan ada yang menyebabkan meninggal dunia.
Apa yang terjadi dengan anak tersebut, jelaskan dengan perspektif learning.

Posted in: DEFENITION